IEE EXPO 2010 adalah Pameran karya Finalis LCEN & FGTA, hasil karya teknologi kreatif dari mahasiswa dan industri, serta unjuk karya dari komunitas komunitas yang ada di Surabaya. Selain itu ada workshop, acara hiburan, penampilan dari live akustik & band dan banyak acara hiburan lainnya.
(Bidang Lomba Elektronika Dasar non Mikrokontroler)
HELM itu bentuknya tak berbeda dengan helm kebanyakan, sama-sama bulat seukuran kepala orang dewasa. Hanya, di atas helm kuning itu bertengger baling-baling kecil yang terhubung pada sebuah rangkaian. Termasuk motor DC, kapasitor, dan IC regulator. Seutas kabel menjuntai di bagian belakang helm. ''Ini bukan kabel biasa. Ini kabel charger,'' tutur Maria Eleonora Angelina, sang pembuat helm.
Ya, nama helm itu sesuai betul dengan juntaian kabel charger itu. ''Namanya helm charger. Bisa mengisi batu baterai handphone apa pun,'' sambung siswi kelas VI SMP Kr Petra 3 itu lantas tersenyum.
Adalah sang baling-baling mungil yang menghasilkan listrik. Ketika helm dipakai berkendara, angin bakal memutar baling-baling dan menggerakkan motor (yang berfungsi sebagai dinamo). Gerak tersebut kemudian berubah menjadi gaya listrik. Secara otomatis, batu baterai handphone terus terisi apabila kabel charger ditancapkan ke tempat itu.
Demo helm mengisi baterai handphone itu kemarin dilakukan Maria dan rekannya, Tommas Yoehono, kepada pengunjung LCEN-ITS di Graha Sepuluh Nopember. Alat elektronika tim Volt Master itu masuk kategori Elektronika Dasar Non-Mikrokontroller. Tak sedikit yang ingin menjajal helm berbaling-baling itu.
''Orang tua saya juga sempat penasaran dan ingin punya helm yang seperti ini,'' aku Maria, siswa kelahiran Surabaya, 12 Desember 1994, itu.
Dalam kondisi penghematan energi saat ini, tampaknya tak rugi bagi pengendara motor menjajal helm produk siswa SMP Kr Petra 3 itu. Biaya pembuatan rangkaian pun amat murah. Total hanya membutuhkan biaya Rp 40 ribu (tidak termasuk helm). Tinggal dipakai, tancap gas, wuss, dan terisilah baterai berbagai jenis handphone. Tak ada lagi istilah low bat (baterai lemah) di tengah jalan.
Maria dan Tommas menggarap helm charger tersebut sejak Februari lalu. Pembuatannya terinspirasi dari banyaknya pengendara motor dan penggunaan handphone yang kini menjadi kebutuhan primer. Tak sekadar berkutat di dalam laboratorium, kedua anggota kelompok karya ilmiah pelajar tersebut juga menjajal helmnya di lapangan.
''Tapi, waktu itu belum dalam bentuk helm. Kami membawa baling-balingnya saja berputar-putar di Jalan Dharma Husada dan Kompleks Manyar,'' papar Tommas. Setelah helm jadi pun, tak lupa mereka menjajalnya. Tampak pada foto mereka terpampang helm yang siap dipakai di atas motor bernopol W 5293 PI.
Mulai masa uji coba hingga kini mereka tak menemui kendala atau alat yang tiba-tiba menjadi error. ''Kami bersyukur hingga kini tak ada masalah. Kami malah berharap bisa terus mengembangkannya,'' sahut Maria. Helm charger tersebut, menurut Maria, masih bisa dikembangkan lagi untuk mengisi baterai berbagai peralatan elektronika lain yang juga sering dibawa saat berkendara motor. Misalnya laptop atau MP3.
Sumber : http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=821