SITIA Seminar on Intelligent Technology and Its Applications 11th adalah Konferensi bertaraf internasional yang membahas tentang perkembangan Teknologi Cerdas (Intelligent Technology) dan Aplikasinya. SITIA diikuti oleh mahasiswa, dosen, peneliti, teknisi serta masyarakat umum dari dalam dan luar negeri.
Edisi Karya LCEN : Robot Pelempar Bola Pingpong Otomatis
Written by Panitia IEE EXPO
Wednesday, 17 March 2010 10:30
Robot Pelempar Bola Pingpong
Bidang Lomba Otomasi Industri
Sesuai dengan namanya, karya yang mereka ciptakan adalah sebuat robot yang dapat digunakan untuk melempar bola pingpong. “Kami tujukan alat ini untuk orang-orang kelas atas atau orang sibuk yang sering sendirian ketika bermain tenis atau untuk latihan atlet,” kata Ali menjelaskan.
Robot yang pembuatannya menghabiskan dana sekitar Rp 2 juta ini mempunyai dua sistem utama, yaitu manual dan otomatis. Sistem manual menggunakan joy stick yang bisa mengatur bola ke kanan atau ke kiri, pelan atau cepat (smash). Sedangkan sistem otomatis dengan menggunakan sensor yang bisa digunakan sesuai dengan keinginan. “Misalkan kita memasukkan input sensor 100, maka robot akan melempar bola secara random dan berhenti setelah bola ke-100,” ungkap Dimas.
Karena karyanya sangat aplikatif, robot ini tidak hanya mendapatkan nilai plus dari juri saja. Tercatat banyak pengunjung yang tertarik dengan karya dua mahasiswa ini. Salah satunya dari Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pendidikan Olahraga Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang tertarik untuk membantu memperoleh sertifikat ketahanan. “Mareka tertarik dengan alat ini untuk dipasarkan. Namun harus melalui uji ketahanan alat dahulu sebelum itu,” ulasnya.
Namun karena latar belakang mereka masih mahasiswa yang berpikir penelitian bukan industri, mereka masih belum berani melakukan uji ketahanan alat. “Kami berani melakukan tahap industri komersial jika ada yang membantu pendanaan, desain dan pemasaran,” ujar Ali.
Ada juga tawaran dari Sekolah Atlet Surabaya yang terletak di daerah Wonokromo. “Mereka tertarik karena pihaknya juga memiliki alat sejenis yang didatangkan dari Jepang seharga Rp 5-6 jutaan. Namun sistemnya masih manual semua,” kata pria asal Jepara ini. Namun sekali lagi, mereka juga menginginkan uji ketahanan alat terlebih dahulu hingga bisa alat tersebut bisa benar-benar stabil dalam waktu yang lama.